Minggu, 11 November 2012

MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL





MODEL PENGEMBANGAN SISTEM
INSTRUKSIONAL

Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Terstruktur
Description: Logo IAIN
Mata Kuliah : Perencanaan Pembelajaraan
Dosen Pengampu : Drs. H. Endang Sudjana, M.Pd




Disusun Oleh Kelompok:
Jalil




FAKULTAS  TARBIYAH
JURUSAN/SEMESTER :TADRIS.IPS-C/V

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
 SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pengembangan sistem pembelajaran (instruksional) merupakan salah satu bentuk pembaharuan sistem instruksional yang banyak dilakukan dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan, dengan maksud agar sistem tersebut dapat lebih serasi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, serasi pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utama meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Namun demikian, pendekatan yang sistematis dalam kegiatan instruksional ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dan dengan sebutan yang berbeda-beda pula. Sebutan itu di antaranya adalah: pengembangan instruksional, desain instruksional, pengembangan sistem instruksional, pengembangan program instruksional, pengembangan produk instruksional, pengembangan organisasi, dan pengembangan kemampuan mengajar. Tetapi istilah populer yang lazim digunakan adalah “pengembangan instruksional (pembelajaran), yang merupakan padanan dari istilah “instructional development”. Istilah yang disebutkan terakhir ini adalah merupakan istilah resmi yang dibakukan oleh organisasi profesi AECT (Association for Educational Communication and Technology) di Amerika Serikat.
Dalam operasionalnya pengembangan sistem intruksional ini dapat dilaksanakan untuk jangka pendek maupun jangka panjang; dapat dilaksanakan untuk satu topik sajian, satu periode latihan, satu semester, satu bidang studi, atau bahkan satu sistem yang lebih besar lagi.
Atas dasar itulah Gustafson (dalam Sadiman, 1986:13) membedakan adanya tingkatan atau level pengembangan sistem instruksional, yakni: (a) tingkatan kelas, (b) tingkatan sistem, (c) tingkatan produk, dan (d) tingkatan organisasi. Setiap tingkatan tersebut memiliki fungsi dan model-model yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Di Indonesia, pengembangan sistem pembelajaran merupakan hal yang relatif baru. Pertama kali digunakan pada tahun 1972 oleh Badan Pengembangan Pendidikan (sekarang: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) dengan nama populernya PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Bahkan perguruan tinggi kita baru mengenal dan menggunakan model pengembangan sistem instruksional ini pada tahun 1976. Sejak saat itu pengembangan dan penggunaan model-model pengembangan sistem intruksional sangat berkembang pesat sampai saat ini.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
1.      Bagaimanakah konsepsi dasar pengembangan sistem Instruksional?
2.      Apakah  prinsip dasar pengembangan Sistem Instruksional?
3.      Bagaimanakah tingkatan pengembangan sistem Instruksional?
4.      Bagaimanakah model-model pengembangan sistem instruksional?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimana konsepsi dasar pengembangan sistem instruksional.
2.      Untuk mengetahui prinsip dasar pengembangan sistem instruksional.
3.      Untuk mengetahui tingkatan pengembangan sistem instruksional.
4.      Untuk mengetahui model-model pengembangan sistem instruksional. .



BAB II
PEMBAHASAN
MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL

A.    KONSEPSI DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Model ialah sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan sebuah kegiatan. Pengembangan sistem intruksional ialah proses menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan perilaku pengembangan sistem ini memerlukan pemantauan interaksi siswa. Pengembangan senantiasa didasarkan pada pengalaman. Pengamatan yang sesama dan percobaan yang terkendali. Sedangkan menurut Twelker, Pengembangan instruksional ialah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangakan dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua proses pengembangan, pertama ialah pendekatan secara empiris yang menggunakan dasar-dasar teori, bahan pengajaran disusun berdasarkan pengalaman pengembang. Pendekatan kedua ialah dengan pendekatan model. Dalam penyusunan rancangan pengajaran ada langkah-langkah secara sistem : cara mencapainya dipilihkan cara-cara tertentu, kondisi tertentu, dan perubahan tertentu.[1]
Ada banyak sekali konsepsi dasar tentang pengembangan sistem intruksional yang dapat kita jumpai dalam berbagai kepustakaan, yang rumusannya saling berbeda. Untuk memperoleh pengertian yang komprehensif, berikut ini diberikan beberapa konsepsi dasar yakni:
1.      AECT (1979: 20) mendefenisikan sebagai berikut:
Pengembangan pembelajaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dalam desain, produksi, evaluasi, dan pemanfaatan sistem pembelajaran yang lengkap termasuk komponen-komponennya dan contoh manajemen penggunaannya.
2.      AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku.
3.      Ely (1978: 4) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitas dan praktis bisa dilaksanakan.
Dari beberapa konsepsi dasar tentang pengembangan sistem instruksional, maka dapat ditarik kesimpulan. Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sistematis dalam menilai, mendeskripsikan, mengidentifikasi, mengembangkan serta menggunakan komponen-komponen sistem pembelajaran (peserta didik, tujuan, materi, media, metode, dan evaluasi) demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
B.     PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: berfokus pada siswa, menggunakan pendekatan sistem, dan berupaya memaksimalkan penggunaan berbagai sumber belajar.
1.      Berfokus pada siswa
Prinsip ini memandang bahwa, dalam rangka penerapan pengembangan sistem instruksional, siswa adalah sentral kegiatan pembelajaran. Prinsip ini juga memandang bahwa dalam setiap proses pembelajaran, siswa hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa guru adalah pihak yang pasif. Keduanya harus bertindak aktif.
2.      Pendekatan sistem
Prinsip ini memandang bahwa masalah belajar adalah suatu sistem. Maksudnya, penanganan terhadap satu komponen pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pengembangan sistem instruksional harus pula mempertimbangkan integrasi komponen yang lain sehingga diperoleh efek yang sinergistik untuk memecahkan masalah-masalah belajar.
3.      Pemanfaatan sumber belajar secara maksimal
Prinsip ini memandang bahwa semua komponen sumber belajar baik pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar harus dimanfaatkan secara luas dan maksimal dalam rangka memecahkan masalah-masalah belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
                       

C.    TINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Beberapa tingkatan pengembangan sistem instruksianal dapat kita lihat sebagai berikut:
1.      Tingkatan Sistem
Pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem ini dimaksudkan untuk menghasilkan sistem pembelajaran yang besar. Kegiatan biasanya berangkat dari nol, yakni tidak adanya sistem tersebut sampai dengan dihasilkannya suatu sistem. Kegiatan ini didahului dengan kegiatan awal yang mendalam dan menyeluruh, yang meliputi: analisis kebutuhan, analisis topik, serta analisi tugas. Kegiatan ini tidak hanya berbicara masalah pembelajaran saja tetapi juga masalah pendidikan secara keseluruhan. Masalah yang mendorong dilakukannya kegiatan ini bukan hanya sekedar masalah pembelajaran, melainkan keseluruhan sistem pendidikan dan latihan yang dihadapi oleh lembaga yang bersangkutan. Sedangkan sistem pendidikan/latihan yang menyeluruh itu meliputi masukan mentah (siswa/peserta), jumlah dan kualifikasinya; masukan instrumental (kurikulum/program, fasilitas, dana, dan lainnya); proses/pelaksanaan kegiatan pendidikan/latihan itu sendiri; serta hasil itu yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Oleh karena itu kegiatan ini melibatkan banyak orang terdiri dari ahli teknologi pembelajaran, ahli bidang studi, guru, dan sebagainya.
2.      Tingkatan Kelas
Pengembangan sistem instruksianal tingkat kelas ini pada hakikatnya adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dari pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem untuk dilaksanakan dalam tingkatan kelas. Dengan kata lain, pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini adalah identik dengan penyusunan persiapan mengajar oleh guru untuk satu atau lebih topik tertentu. Kegiatan awalnya sangat sederhana, biasanya berupa penilaian tingkat kemampuan awal siswa. Pada pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini diasumsikan bahwa kurikulum/program pembelajaran, fasilitas, siswa/peserta latihan, pengajar, dan sebagainya.
3.      Tingkatan Produk
Tujuan pengembangan sistem instruksianal tingkatan produk ini adalah untuk memproduksi satu atau lebih produk pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, kegiatan ini didahului dengan mengkaji masalah-masalah pembelajaran yang ada untuk mengetahui masukan yang diperlukan. Hasil kegiatan ini berupa paket pembelajaran seperti modul, media audiovisual, dan lain-lain bahan belajar yang bentuknya disesuaikan dengan karakteristiknya. 
4.      Tingkatan Organisasi
Pengembangan sistem instruksianal tingkat organisasi ini dimaksudkan tidak hanya untuk meningkatkan pembelajaran, tetapi juga memodifikasi atau mengubah organisasi dan personil suatu lembaga atau organisasi ke situasi yang baru agar efektivitas dan efisiensi organisasi tersebut meningkat.
Kegiatan ini diawali dengan bertolak dari analisis pekerjaan, atau analisis isi ajaran. Analisis ini akan menghasilkan tiga kemungkinan, yakni:
a.       Perlunya diklat khusus diluar pekerjaan karena ada sejumlah kemampuan yang belum dikuasai.
b.      Perlunya latihan dalam jabatan karena ada sejumlah kemampuan khusus yang harus dikuasai.
c.       Perlunya ada pengawasan dan pembinaan yang ketat dalam pelaksanaan pekerjaan karena dituntut adanya ketepatan perbuatan dalam suatu tugas.

D.    MODEL-MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Pengembangan instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Hasil akhir dari pengembangan instruksional ialah suatu sistem instruksional, yaitu materi dan strategi belajar-mengajar yang dikembangkan secara empiris yang secara konsisten telah dapt mencapai tujuan instruksional tertentu.
Pengembangan instruksional ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan, dan evaluasi terhadap sistem instruksional yang sedang dikembangkan tersebut sehingga setelah mengalami beberapa kali revisi, sistem instruksional tersebut dapat memuaskan hati pengembangnya.
Pengembangan instruksional adalah teknik pengelolaan dalam mencari pemecahan masalah-masalah instruksional atau setidak-tidaknya dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar yang ada untuk memperbaiki pendidikan.
Ada beberapa model pengembangan instruksional, misalnya model pengembangan instruksional Briggs, model Banathy, model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), model Kemp, model Gerlach dan Ely, dan model IDI (Instructional Development Institute).
Model-model tersebut mempunyai banyak perbedaan dan persamaan. Perbedaan model-model tersebut terletak pada istilah yang dipakai, urutan, dan kelengkapan langkahnya. Persamaannya ialah bahwa setiap model mengandung kegiatan yang dapat digolongkan ke dalam tiga kategori kegiatan pokok, yaitu:
a)      Kegiatan yang membantu menentukan masalah pendidikan dan mengorganisasi alat untuk memecahkan masalah tersebut,
b)      Kegiatan yang membantu menganalisis dan mengembangkan pemecahan masalah, dan
c)      Kegiatan yang melayani keperluan evaluasi pemecahan masalah tersebut.

Model-model pengembangan instruksional sebagai berikut:
1.      Model Pengembangan Instruksional Briggs
Model yang dikembangkan oleh Briggs berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran dosen atau guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan instruksional maupun tim pengembangan instruksional yang susunan anggotanya meliputi dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang instruksional. Briggs berkeyakinan bahwa banyak pengetahuan tentang belajar mengajar dapat diterapkan untuk semua jajaran dalam bidang pendidikan dan latihan. Karena itu ia berpendapat bahwa model ini juga sesuai untuk pengembangan program-program latihan jabatan, tidak hanya terbatas pada lingkungan program-program akademis saja. Disamping itu, model tersebut dirancang sebagai metodologi pemecahan masalah instruksional.
Ada tujuh langkah model pengembangan Briggs, sebagai berikut:
1)      Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan
Langkah ini merupakan proses penentuan tujuan, kebutuhan, dan prioritas kegiatan instruksional. Disini Briggs menggunakan pendekatan bertahap 4, yaitu:
a.       Mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas,
b.      Menentukan prioritas tujuan,
c.       Mengidentifikasikan kebutuhan kurikulum yang baru, dan
d.      Menentukan prioritas remedialnya. Dengan adanya data analisis kebutuhan ini, penggunaan maupun cara pengalokasian waktu, sumber, dan tenaga akan dapat diatur sebaik-baiknya.
2)      Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan
Kebutuhan instruksional yang telah dituangkan ke dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut harus dirinci, disusun, dan di organisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik yang mendukung tercapainya tujuan akhir kurikuler serta keseluruhan.
3)      Perumusan tujuan
Setelah tujuan kurikuler yang bersifat umum ditentukan dan diorganisasikan menurut tujuan-tujuan yang lebih khusus, tujuan ini sebaik-baiknya dirumuskan dalam tingkah laku belajar yang terukur. Diusulkan agar perumusan tujuan mengandung lima komponen:
a.       Tindakan
b.      Objek
c.       Situasi
d.      Alat dan Batasan
e.       Kemampuan.
4)      Analisis tugas/tujuan
Langkah berikutnya menurut rancangan sistem instruksional ialah menentukan bagaimana cara mengajarkannya agar tujuan yang telah dirumuskan tersebut dapat dicapai. Untuk ini perlu diadakan analisis tentang tiga hal yang berikut:
a)      Proses informasi: untuk menentukan tata urutan pemikiran yang logis.
b)      Klasifikasi belajar, yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan belajar informasi, kognitif, sikap, dan gerak: untuk mengidentifikasi kondisi belajar yang diperlukan, dan
c)      Tugas belajar: untuk menentukan prasarat belajar dan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang sesuai.
5)      Penyiapan evaluasi hasil belajar
Penyiapan instrumen evaluasi hasil belajar atau penyusunan tes dilakukan pada tahap ini karena erat kaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Tes/evaluasi harus valid, karena itu harus selaras dengan tujuannya.
6)      Menentukan jenjang belajar
Briggs mengklasifikasikan tahap ini dan tahap berikutnya (penentuan kegiatan belajar) dalam pengertian strategi instruksional. Jenjang belajar menyusun kembali sekuens belajar tersebut dalam urutan kegiatan belajar yang merupakan prasarat bagi kegiatan belajar yang lain.
7)      Penentuan kegiatan belajar
Strategi instruksional yang juga harus dikembangkan adalah menentukan bagaimana kegiatan belajar mengajar akan diatur agar tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai. Penentuan strategi instruksional oleh Briggs disoroti dari dua segi pandangan, yaitu menurut pandangan dosen sebagai perancang kegiatan instruksional, dan menurut tim pengembang instruksional, dan dikembangkan dalam strategi instruksional.
2.      Model Bela H. Banathy
Pengembangan sistem instruksional menurut Banathy dapat dibedakan dalam enam langkah, sebagai berikut:
Langkah 1: merumuskan tujuan (formulate objectives)
Langkah pertama ini merupakan suatu pernyataan yang menyatakan apa yang kita harapkan dati mahasiswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan sebagai hasil dari pengalaman belajarnya.
Langkah 2: mengembangkan tes (develop test)
Dalam langkah ini dikembangkan suatu tes yang didasarkan atas tujuan yang diinginkan, dan digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diharapkan dicapai sebagai hasil dari pengalaman belajarnya.
Langkah 3: menganalisis kegiatan belajar (analyze learning task)
Dalam langkah ini dirumuskan apa yang harus dipelajari sehingga dapat menunjukkan tingkah laku seperti yang digambarkan dalam tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kegiatan ini, kemampuan awal mahasiswa harus dianalisis atau dinilai karena mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka ketahui atau kuasai.
Langkah 4: mendesain sistem instruksional (design system)
Setelah itu perlu dipertimbangkan alternatif-alternatif dan identifikasi apa yang harus dikerjakan untuk menjamin bahwa mahasiswa akan menguasai kegiatan-kegiatan yang telah dianalisis pada langkah ketiga.
Langkah 5: melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (implement and test output)
Dalam langkah ini, sistem yang sudah didesain dapat diujicobakan atau dites dan dilaksanakan. Apa yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan mahasiswa sebagai hasil implementasi sistem, harus dinilai agar dapat diketahui seberapa jauh mereka telah menunjukkan tingkah laku seperti yang dimaksudkan dalam rumusan tujuan.
Langkah 6: mengadakan perbaikan (chage to improve)
Hasil-hasil yang diperoleh dari evaluasi kemudian merupakan umpan balik (feed back) untuk keseluruhan sistem sehingga perubahan-perubahan dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem instruksional.
3.      Model PPSI
PPSI singkatan dari Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional, digunakan sebagai metode penyampaian dalam rangka kurikulum 1975 untuk SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah-sekolah kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Istilah sistem instruksional dalam PPSI menunjuk kepada pengertian sebagai suatu sistem, yaitu sebagai suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai suatu sistem, pengajaran mengandung sejumlah komponen, antara lain materi, metode, alat, evaluasi, yang kesemuanya berinteraksi satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. PPSI merupakan langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.
Ada lima langkah pokok dalam PPSI, yaitu:
a.       Merumuskan tujuan istruksional
b.      Menyusun alat evaluasi
c.       Menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran
d.      Merancang program kegiatan, dan
e.       Melaksanakan program
4.      Model Kemp
Model pengembangan instruksional menurut Kemp atau yang disebut desain instruksional terdiri dari delapan langkah, yaitu:
a.       Menentukan tujuan instruksional umum, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan,
b.      Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui, apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah-langkah apa yang perlu diambil,
c.       Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur. Dengan demikian siswa akan tahu apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa dia telah berhasil. Dari segi pengajar rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan materi yang sesuai,
d.      Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai,
e.       Menetapkan penjajagan awal. Ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memenuhi prasyarat belajar yang dituntut untuk mengikuti program yang bersangkutan,
f.       Menentukan strategi belajar mengajar yang sesuai. Kriteria umum untuk pemilihan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus tersebut adalah efisiensi, keefektifan, ekonomis, dan kepraktisan,
g.      Mengkoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga,
h.      Mengadakan evaluasi.


5.      Model Pengembangan Gerlach dan Ely
Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar. Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan sepuluh langkah:
a.       Merumuskan tujuan
b.      Menentukan isi materi
c.       Menurut kemampuan awal
d.      Menentukan teknik dan strategi
e.       Pengelompokan belajar
f.       Menentukan pembagian waktu
g.      Menentukan ruang
h.      Memilih media instruksional yang sesuai
i.        Mengevaluasi hasil belajar
j.        Menganalisis umpan balik
6.      Model IDI (Instructional Development Institute)
Pengembangan instruksional model ID (Instruksional Development Institute) merupakan suatu hasil konsorsium antar perguruan tinggi di Amerika Serikat yang dikenal dengan Uniiversity Consorsium Instructional Development and Technology (UCIDT).
Model IDI ini telah dikembangkan dan diuji-cobakan pada beberapa negara di Asia dan Eropa dan telah berhasil di 334 institusi pendidikan di Amerika. Sebagaimana halnya dengan model-model pengembangan instruksional lainnya, model ini juga menggunakan model pendekatan sistim yang meliputi tiga tahapan, yakni;
a.      Tahap pembatasan (define)
Identifikasi masalah, dimulai dengan analisis kebutuhan atau yang disebut need assesment. Pada dasarnya need assisment ini berusaha menemukan suatu perbedaan (descrypancy) antara apa yang ada dan apa yang idealnya (yang diinginkan). Karena banyaknya kebutuhan pengajaran, maka perlu diadakan prioritas mana yang didahulukan dan mana yang dikemudian.
b.      Tahap Pengembangan
Identifikasi tujuan; tujuan instruksional yang hendak dicapai perlu diidentifikasikan terlebih dahulu, baik tujuan instruksional umum (TIU) dalam hal ini IDI menyebutkan dengan Terminal Objectives dan tujuan instruksional khusus (TIK) yang disebut Enabling Objectives. TIK adalah penjabaran yang lebih rinci dari TIU, maka TIK dianggap penting sekali dalam pengembangan instruksional, disamping itu TIK perlu karena;
1)      Membantu siswa dan guru untuk memahami secara jelas apa-apa yang diharapkan sebagai hasil kegiatan instruksional;
2)       TIK merupakan building blocks dari pengajaran yang diberikan
3)      TIK merupakan penanda tingkah laku yang harus diperlihatkan oleh siswa sesuai dengan kegiatan instruksional yang diberikan.
Penentuan metode;
1)       Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan perlu ditempuh suatu cara, dalam hal ini metode apa yang cocok digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkn tersebut.
2)       Bagaimanakah urutan isi/ bahan yang akan disajikan?
3)      Bentuk instruksional apakah yang dipilih sesuai dengan karakteristik siswa dalam situasi dan kondisinya? Apakah dipakai metode ceramah, diskusi, praktikum, karyawisata, tugas individual dan lain-lainnya?
c.       Tahap penilaian
Tes uji coba;
Setelah prototipa program instruksional tersebut disusun, maka langkah berikutnya harus diadakan uji-coba. Uji-coba ini dapat dilakukan pada sampel audien untuk menentukan kelemahan dan kebaikan serta efesiensi dan keefektifan suatu program yang dikembangkan.
Analisis hasil
Hasil uji coba yang dilakukan perlu dianalisis terutama yang berkenaan dengan;
1.      Apakah tujuan dapat dicapai, bila tidak atau belum semuanya, dimanakah letak kesalahannya?
2.      Apakah metode atau teknik yang dipakai sudah cocok denganpencapaian tujuan-tujuan tersebut, mengingat karakteristik siswa yang telah diidentivikasi?
3.      Apakah tidak ada kesalahan dalam pembuatan instrumen evaluasi?
4.      Apakah sudah dievaluasi hal-hal yang seharusnya perlu dievaluasi?

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa: Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku. Pengembangan sistem pembelajaran adalah merupakan usaha yang sistematis dari teknologi pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sadiman (1986: 12) menyatakan bahwa pengembangan pembelajaran adalah suatu usaha yang sistematis untuk menganalisis masalah, mengidentifikasi, memilih, merancang, dan menilai pemecahannya. Usaha tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan suatu desain sistem pembelajaran yang komplit, terarah, dan terkontrol untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, pengembangan sistem pembelajaran adalah bagian dari teknologi pembelajaran.

Pengembangan intruksional mengandung tiga pokok :
1.      Kegiatan penentuan masalah dan perorganisasian masalah un tuk memecahkan masalah, meliputi kegiatan: anlisa kebutuhan mahasiswa, identifikasi karakteristik mahasiswa.
2.      Kegiatan analisis dan pengembangan pemecahan masalah, meliputi kegiatan : perumusan tujuan intruksional, analisi tugas dan jenjang belajar, strategi intruksional, pemilian media, dan pengembangan prototip.
3.      Kegiatan evaluasi pemecahan masalah, meliputi kegiatan : uji coba, review, dan revisi, implementasi, serta evalusi.
Model pengembangan intruksiaonal adalah sebagi berikut:
a.       Model pengembangan intruksional Briggs
b.      Model Banathy
c.        Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional)
d.      Model Gerlach dan Ely
e.       Model Kemp
f.       Model IDI (Intruksional Development Intruksional)

               
DAFTAR PUSTAKA
Harjanto. (2006). Perencanaan pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Miarso. (1988). Survey model pengembangan instruksional. Jakarta: PAU-UT.
Sadiman. (1986). Media pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud.
Mudhoffir. 1986. ”Teknologi Instruksional”, Bandung : CV. Remadja Karya.
http://pinterdw.blogspot.com/2012/01/definisi-model-pengembangan.html       



[1]http://pinterdw.blogspot.com/2012/01/definisi-model-pengembangan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar